
Magelang, Legacy Arena – Lapangan Rindam IV/Diponegoro pada 09 Maret 2026 tidak sepi seperti biasa. Di sela-sela keramaian Kampung Ramadan yang dipenuhi tenant makanan, minuman, pakaian, hingga hewan peliharaan, sejumlah warga justru memilih mengisi waktu ngabuburit dengan berolahraga. Mereka berlari, mengayuh sepeda, atau sekadar melakukan pemanasan ringan tetap bergerak meski perut kosong sejak subuh.
Kampung Ramadan di area Rindam IV/Diponegoro dikenal sebagai salah satu yang paling ramai dan semarak di Kota Magelang setiap bulan puasa. Ratusan pengunjung berdatangan tiap sore untuk berburu takjil ditemani udara sejuk khas kota ini. Namun di sudut lapangan, ada pemandangan yang sedikit berbeda. Barisan pelari terus mengelilingi lapangan, tak tergoda oleh deretan jajanan di sekitar mereka.
Para pelari itu berlari dengan kecepatan yang terukur, tidak sprint dan tidak pula sekadar jalan santai. Sebagian mengenakan earphone dan smartwatch, memantau detak jantung serta jarak tempuh. Sebagian lainnya berlari berkelompok dua hingga empat orang, sesekali bercengkrama sambil mengatur napas. Intensitas dijaga, cukup untuk mengeluarkan keringat tanpa memicu dehidrasi berlebih di tengah puasa.
Salman, salah satu warga yang rutin berlari di area Rindam, mengaku berolahraga saat puasa punya tantangan tersendiri. Menurutnya dehidrasi adalah rintangan terbesar yang harus dikelola.
“Paling berat itu menahan haus. Kalau lari, dehidrasinya cepat sekali. Makanya asupan air sebelum berbuka dan setelah sahur itu benar-benar harus dicukupi,” ujar Salman.
Rekan larinya, Ramadhan, berbagi cara agar olahraga saat puasa tidak malah menguras tenaga. Kuncinya ada pada dua hal, mengatur intensitas dan memperbanyak konsumsi air.
“Jangan berlebihan. Cukup lari untuk keluar keringat supaya daya tahan tubuh lebih baik. Lalu yang kedua, sebelum olahraga sore begini harus perbanyak minum air mineral,” katanya.
Selain pelari, sejumlah pesepeda juga memanfaatkan area ini untuk ngabuburit aktif. Ada yang sengaja menembus kepadatan Kampung Ramadan sambil manuver di antara pengunjung, ada pula yang memilih mengitari lapangan dan jalan sekitarnya dengan santai. Ritme mereka pelan, lebih menikmati udara sore dibanding mengejar catatan waktu.
Raditya, yang sudah lama menggemari bersepeda, senang melihat semakin banyak anak muda yang mulai peduli terhadap kesehatan. Ia berharap tren ini terus terjaga.
“Harapan saya semoga anak-anak muda tetap semangat olahraga. Fasilitas di Magelang ini sebenarnya bagus, lengkap, dan mumpuni. Sayang kalau tidak dimanfaatkan,” ucap Raditya.

Menjelang magrib, jumlah orang yang berolahraga mulai berkurang. Satu per satu menghentikan aktivitasnya, mengusap keringat, lalu bergeser ke keramaian Kampung Ramadan untuk bersiap berbuka. Namun dua orang masih terlihat berlari hingga menit-menit terakhir sebelum azan berkumandang.
Andri dan Ilham, keduanya atlet sepak bola, memang sengaja memanfaatkan sore itu untuk sesi latihan. Bagi mereka, puasa bukan alasan untuk absen dari jadwal fisik. Mereka tengah mempersiapkan kondisi tubuh menghadapi liga nasional yang sudah di depan mata.
“Yang penting jaga pola makan dan pola tidur. Kalau dua itu terjaga, latihan saat puasa tidak masalah,” tutur Andri.
Ilham menambahkan, menjaga kesehatan justru semakin penting di musim pancaroba seperti sekarang.
“Masyarakat perlu lebih paham soal kesehatan. Cuaca sekarang tidak menentu, kadang hujan kadang panas, dan itu sangat berpengaruh pada kondisi tubuh serta aktivitas sehari-hari,” ujar Ilham.
Azan magrib mulai berkumandang. Sejuknya angin sepoi-sepoi berpadu dengan gairah suasana berbuka puasa. Minuman dingin diteguk dan kudapan segala macam disantap. Sore itu olahraga dan tradisi Ramadan berjalan berdampingan, menyatu dalam hangatnya suasana Kampung Ramadan di Rindam IV Diponegoro.