Home LEGACY CULTUREMenengok Kembali Keseruan Ramadan Street Movement

Menengok Kembali Keseruan Ramadan Street Movement

by Lazuardi Rafi
Para pesepeda hendak berbagi takjil di acara Ramadhan Street Movement (Dokumentasi Legacy Arena)

Sepekan telah berlalu sejak warga muslim Magelang merayakan hari lebaran. Kini jalanan Kota Magelang mulai kembali ke ritmenya yang lazim, ramai tapi santai. Apabila kami memutar memori ke tiga minggu yang lalu, ada satu sore yang terasa lebih hidup. Bukan karena keramaian para pencari takjil atau ruwetnya orang berbelanja. Namun, pergerakan yang memadukan olahraga, musik, dan berbagi, Ramadhan Street Movement.

Jalanan padat dan penuh aktivitas seperti biasa ketika para pesepeda mulai berdatangan dari segala arah. Sebagian memarkirkan sepeda dan duduk santai, yang lain terlihat bersepeda kesana-kemari. Tidak butuh waktu lama untuk pesepeda dari berbagai komunitas ini untuk berkumpul menjadi satu tepat di Tugu Aniem, depan Klenteng Liong Hok Bio. Sekitar pukul setengah lima sore pedal mulai dikayuh, rombongan mulai menjelajahi Kota Magelang.

Bersepeda keliling kota memang menyenangkan. Namun, yang membuat acara terasa spesial karena dilakukan di bulan Ramadan sembari berbagi takjil. Pada satu momen, para pesepeda sengaja berhenti di sekitar Simpang Tiga Bayeman. Sudah waktunya takjil yang menebeng di keranjang sepeda untuk tampil. Ketika lampu merah, mereka bergegas untuk membagikan takjil tersebut ke pengguna jalan, ojek online, tukang becak, dan tukang parkir. Wajah yang tampak kusut dari segala urusan hari itu mendadak bersinar terang.

Puas berbagi takjil, para pesepeda melanjutkan petualangan mereka. Matahari semakin tergelincir dan angin sepoi-sepoi mengiringi rombongan. Meskipun jalanan kota di beberapa titik sangat padat, semangat mereka justru makin membara karena tak lama lagi waktu berbuka tiba.

Hari mulai gelap ketika penjelajahan kota telah usai dan rombongan pesepeda mulai berdatangan di Straad Coffee, kawasan Pecinan. Tak lama, azan magrib mulai menggema, tangan-tangan pesepeda segera meraih minuman dingin dan potongan semangka segar yang telah disiapkan untuk berbuka puasa. Sembari melepas penat, senda gurau peserta berpadu dengan kawasan Pecinan Magelang yang tampak hidup dengan lalu lintas orang maupun kendaraan.

Azan mulai berlalu telinga kami kini dapat mendengar lagu-lagu fresh yang mulai diputar pertanda live DJ telah dimulai. Antusias peserta lebih tinggi dari sebelumnya. Para barista Straad Coffee mulai disibukkan dengan pesanan kopi dari dalam minivan mereka. Tanpa membuang-buang waktu, panitia memulai sesi games berhadiah. Gelak tawa dan selebrasi menghiasi suasana yang terasa mengalir tanpa terasa canggung antar peserta.

“Fokus dari kami adalah berbagi. Tadi kami sempat berbagi sekitar 130 paket makanan untuk berbuka di dua lokasi berbeda,” ujar Arbi, salah satu panitia sambil sesekali menganggukan kepala menikmati musik. Temannya, Golbi kemudian menjelaskan lebih lanjut bahwa tujuan dari acara ini diantaranya mencoba bermanfaat bagi sesama dan menggerakkan jiwa sosial para pesepeda dan kolektif DJ.

DJ set dari Outcast Syndicate di acara Ramadhan Street Movement (Dokumentasi Legacy Arena)

Alunan musik dari DJ set terus berlanjut setelah sesi games berhadiah selesai. Semarak dan selebrasi para penerima hadiah berganti dengan suasana hangat peserta yang duduk santai bercengkrama ditemani kopi. Penutup ideal setelah mengikuti acara sosial yang sama sekali tidak membosankan. Sore itu anak muda dan komunitas kreatifnya membuktikan bahwa mereka dapat berdampak positif bagi lingkungan sekitar sembari melakukan hobi mereka.

Ramadan dan lebaran memang telah berlalu, tapi Ramadhan Street Movement menyisakan kesan yang dalam. Bukan hanya sebatas dokumentasi dan konten sosial media, melainkan sebagai pengingat bahwa bagaimanapun caranya, menebar manfaat untuk sesama pantas dirayakan dengan penuh kebahagiaan.

You may also like

Leave a Comment